Pasar handheld gaming PC sedang bergerak semakin cepat. Setelah Steam Deck membuka jalan besar untuk perangkat gaming portabel berbasis PC, kini banyak brand besar dan kecil ikut masuk dengan spesifikasi yang makin agresif. Tidak hanya Valve, nama seperti ASUS ROG, Lenovo Legion, MSI, GPD, AYANEO, sampai ONEXPLAYER mulai saling adu kuat lewat prosesor baru, layar lebih besar, baterai lebih tahan lama, dan desain yang makin mirip console modern.
Tren handheld saat ini tidak lagi sekadar soal bisa menjalankan game PC di genggaman tangan. Persaingannya sudah masuk ke area yang lebih serius: performa AAA, efisiensi daya, kenyamanan grip, kualitas layar, kapasitas RAM, storage, pendinginan, sampai integrasi software agar Windows tidak terasa terlalu kaku untuk perangkat kecil.
ROG Xbox Ally X, Handheld Windows Rasa Xbox
Salah satu perangkat yang paling ramai dibicarakan adalah ROG Xbox Ally X. Perangkat ini merupakan hasil kolaborasi ASUS ROG dan Xbox, membawa konsep handheld Windows dengan pendekatan yang lebih console-like. Dari sisi desain, ROG Xbox Ally X punya grip yang lebih besar dan nyaman, terinspirasi dari controller Xbox.
Secara spesifikasi, ROG Xbox Ally X memakai AMD Ryzen AI Z2 Extreme, RAM 24GB LPDDR5X 8000MHz, storage 1TB SSD, layar 7 inci Full HD 120Hz dengan FreeSync Premium, dan baterai 80Wh. Kombinasi ini membuatnya jadi salah satu handheld mainstream paling kuat saat ini, terutama untuk pemain yang ingin menjalankan game AAA modern dengan setting lebih fleksibel.
Kelebihan ROG Xbox Ally X bukan hanya di tenaga, tetapi juga di ekosistem. Karena membawa nuansa Xbox dan tetap berbasis Windows 11, perangkat ini bisa mengakses berbagai launcher game PC, termasuk Steam, Xbox App, Game Pass, Epic Games Store, dan platform lain. Buat gamer yang ingin handheld serba bisa tanpa terlalu banyak kompromi, ROG Xbox Ally X menjadi salah satu opsi paling menarik.
Lenovo Legion Go 2, Layar Besar dan Fitur Lengkap
Lenovo Legion Go 2 hadir sebagai penerus Legion Go generasi pertama dengan pendekatan yang lebih serius. Perangkat ini tetap mempertahankan ciri khas controller yang bisa dilepas, mirip konsep Nintendo Switch, tetapi dengan hardware Windows handheld yang jauh lebih kuat.
Legion Go 2 dibekali AMD Ryzen Z2 Extreme, grafis Radeon RDNA 3.5, RAM 32GB LPDDR5X, storage 1TB SSD, layar OLED 8,8 inci 1920 x 1200 dengan refresh rate hingga 144Hz, serta baterai 74Wh. Dari sisi fitur, Legion Go 2 menjadi salah satu handheld paling lengkap karena menawarkan layar besar, warna tajam dari panel OLED, controller detachable, kickstand, dan mode penggunaan yang lebih fleksibel.
Namun, perangkat ini juga punya konsekuensi. Ukurannya besar, bobotnya cukup berat, dan harganya masuk kategori premium. Jadi Legion Go 2 lebih cocok untuk gamer yang mencari pengalaman handheld besar dengan layar lega, bukan untuk pengguna yang ingin perangkat ringan dan mudah dibawa ke mana-mana.
MSI Claw A8, Kini Ikut Masuk ke Jalur AMD
MSI Claw A8 menjadi menarik karena MSI mulai masuk lebih serius ke jalur AMD Ryzen Z2 Extreme. Sebelumnya, lini Claw identik dengan prosesor Intel, tetapi versi A8 membawa konfigurasi yang lebih kompetitif untuk pasar handheld gaming modern.
MSI Claw A8 memakai AMD Ryzen Z2 Extreme, grafis Radeon 890M, RAM 24GB LPDDR5X 8000, layar 8 inci FHD+ 1920 x 1200 dengan refresh rate 48–120Hz VRR, serta baterai 80Wh. Spesifikasi ini menempatkannya di kelas atas handheld Windows, bersaing langsung dengan ROG Xbox Ally X dan Lenovo Legion Go 2.
Daya tarik MSI Claw A8 ada pada layar 8 inci, dukungan VRR, baterai besar, dan penggunaan Hall Effect untuk stick serta trigger. Kalau MSI bisa menjaga performa pendinginan dan software tetap stabil, Claw A8 bisa menjadi opsi serius untuk pemain yang ingin handheld AMD bertenaga tanpa harus masuk ke perangkat niche ekstrem.
Steam Deck OLED, Bukan yang Terkencang tapi Tetap Paling Matang
Steam Deck OLED mungkin bukan handheld paling powerful saat ini, tetapi posisinya tetap penting. Perangkat ini masih menjadi salah satu pilihan paling nyaman untuk gamer yang fokus bermain lewat Steam.
Steam Deck OLED menawarkan layar HDR OLED 7,4 inci dengan refresh rate hingga 90Hz, resolusi 1280 x 800, Wi-Fi 6E, baterai 50Wh, dan SteamOS yang sangat ramah untuk handheld. Pengalaman suspend/resume, navigasi library, pengaturan performa, dan kompatibilitas lewat Proton membuat Steam Deck OLED terasa lebih rapi dibanding banyak handheld Windows.
Kelemahannya jelas: dari sisi performa mentah, Steam Deck OLED sudah tertinggal dari perangkat berbasis Ryzen Z2 Extreme atau Ryzen AI Max. Namun untuk pemain yang lebih mengutamakan pengalaman bermain simpel, stabil, dan tidak ingin terlalu sering mengutak-atik Windows, Steam Deck OLED masih sangat relevan.
GPD Win 5 dan ONEXPLAYER Apex, Kelas Monster untuk Pengguna Ekstrem
Kalau pembahasan dibawa ke level paling powerful tanpa terlalu memikirkan harga, maka nama seperti GPD Win 5 dan ONEXPLAYER ONEXFLY Apex harus masuk daftar. Keduanya membawa prosesor AMD Ryzen AI Max+ 395 dengan grafis Radeon 8060S, yang secara kelas berada di atas Ryzen Z2 Extreme.
GPD Win 5 bahkan sering disebut sebagai salah satu handheld paling kencang karena memakai chip Strix Halo dengan performa yang mendekati kelas laptop gaming tipis. Konfigurasinya bisa sangat tinggi, termasuk opsi RAM besar dan storage lega. ONEXPLAYER Apex juga membawa konsep serupa dengan konfigurasi Ryzen AI Max+ 395, RAM besar, layar 8 inci, dan baterai besar.
Namun perangkat seperti ini punya target pasar yang berbeda. Harganya jauh lebih tinggi, konsumsi dayanya lebih besar, dan pengalaman portabelnya tidak selalu sepraktis handheld mainstream. Ini lebih cocok untuk enthusiast, kolektor hardware, atau pengguna yang ingin handheld rasa mini workstation.
Mana yang Paling Powerful Saat Ini?
Kalau bicara performa mentah, handheld dengan Ryzen AI Max+ 395 seperti GPD Win 5 dan ONEXPLAYER ONEXFLY Apex berada di posisi paling atas. GPU Radeon 8060S dan konfigurasi CPU yang lebih besar membuatnya jauh lebih ganas dibanding handheld Z2 Extreme biasa.
Namun kalau bicara perangkat mainstream yang lebih masuk akal untuk gamer umum, pilihan paling kuat saat ini ada di Lenovo Legion Go 2, ROG Xbox Ally X, dan MSI Claw A8. Ketiganya sama-sama membawa kelas performa tinggi berbasis AMD Z2 Extreme, tetapi punya karakter yang berbeda.
ROG Xbox Ally X cocok untuk gamer yang ingin handheld kuat, grip nyaman, baterai besar, dan pengalaman Windows yang lebih dekat ke Xbox. Lenovo Legion Go 2 cocok untuk pemain yang ingin layar besar OLED, controller detachable, dan fitur paling lengkap. MSI Claw A8 cocok untuk gamer yang ingin layar 8 inci, VRR, baterai besar, dan performa AMD Z2 Extreme dalam desain yang lebih modern.
Steam Deck OLED tetap layak dilirik, tetapi bukan untuk mengejar FPS tertinggi. Perangkat ini lebih cocok untuk pemain yang ingin pengalaman Steam paling praktis, stabil, dan nyaman.
Kesimpulan
Persaingan handheld gaming saat ini semakin menarik karena setiap brand punya arah berbeda. ASUS ROG dan Xbox mencoba membawa rasa console ke handheld Windows. Lenovo menawarkan layar besar dan fitur fleksibel. MSI mulai memperkuat lini AMD lewat Claw A8. Valve tetap memegang keunggulan software lewat SteamOS. Sementara GPD dan ONEXPLAYER bermain di kelas ekstrem dengan performa yang hampir menyentuh laptop gaming.
Untuk saat ini, perangkat paling powerful secara mentah adalah handheld berbasis Ryzen AI Max+ 395 seperti GPD Win 5 dan ONEXPLAYER Apex. Tapi untuk gamer umum yang mencari kombinasi performa, kenyamanan, harga, dan ekosistem, ROG Xbox Ally X dan Lenovo Legion Go 2 menjadi dua kandidat paling kuat di kelas mainstream.
Pilihan akhirnya tergantung kebutuhan. Mau performa maksimal tanpa peduli harga, pilih kelas Ryzen AI Max+ 395. Mau handheld gaming premium yang masih lebih masuk akal, lirik ROG Xbox Ally X atau Legion Go 2. Mau pengalaman simpel dan matang, Steam Deck OLED tetap punya tempatnya sendiri.