Artikel

Skena Turnamen Dota 2 Makin Panas, PARIVISION Naik Daun dan Jalan Menuju TI 2026 Mulai Terbuka

Skena kompetitif Dota 2 saat ini sedang masuk fase yang cukup panas. Setelah beberapa turnamen besar berjalan sepanjang musim 2025/2026, perhatian komunitas mulai mengarah ke tiga titik penting: BLAST Slam VII, Esports World Cup 2026, dan The International 2026. Di tengah jadwal yang padat, beberapa tim besar mulai menunjukkan bentuk terbaiknya, sementara nama-nama pemain muda dan veteran kembali menjadi bahan pembicaraan.

Salah satu cerita paling menarik datang dari PARIVISION. Tim asal Eropa Timur ini baru saja menjuarai DreamLeague Season 29 setelah mengalahkan Aurora Gaming dengan skor 3-2 di grand final. Kemenangan ini menjadi sinyal kuat bahwa PARIVISION bukan sekadar kuda hitam, melainkan salah satu penantang serius menjelang turnamen besar berikutnya. Dari total prize pool US$1 juta di DreamLeague Season 29, PARIVISION membawa pulang hadiah utama sekitar US$290 ribu, termasuk pembagian untuk pemain dan organisasi.

Kemenangan PARIVISION juga terasa penting karena datang di momen krusial. Musim kompetitif Dota 2 sedang bergerak menuju Esports World Cup dan The International 2026, dua panggung besar yang bisa menentukan reputasi tim sepanjang tahun. Nama seperti Satanic, No[o]ne, 9Class, Noticed, dan Dukalis mulai sering disorot karena performa mereka stabil dalam tekanan tinggi. Satanic, khususnya, mencuri perhatian lewat kontribusi core yang kuat di laga final DreamLeague Season 29.

Di sisi lain, Aurora Gaming tetap menjadi tim yang layak diperhitungkan. Meski kembali gagal mengangkat trofi Tier 1, performa mereka masih konsisten. Aurora mampu menembus final DreamLeague Season 29 dan tetap berada di lingkaran tim papan atas. Pemain seperti Nightfall, Mikoto, Mira, dan Kaori membuat Aurora tetap terlihat berbahaya, terutama ketika mereka mampu mengubah tempo permainan dari posisi tertekan.

Selain DreamLeague, BLAST Slam VII juga menjadi sorotan besar. Turnamen ini berlangsung pada 26 Mei sampai 7 Juni 2026 dengan total prize pool US$1 juta. BLAST membawa format kompetitif yang mempertemukan 12 tim besar, termasuk Team Liquid, Team Falcons, Tundra Esports, Team Spirit, Team Yandex, OG, Aurora Gaming, PARIVISION, dan Xtreme Gaming. Dengan hadiah juara mencapai US$300 ribu, BLAST Slam VII menjadi panggung penting untuk mengukur kesiapan tim sebelum kalender kompetitif masuk ke fase lebih besar.

Dari sisi penyelenggara dan sponsor, ekosistem Dota 2 saat ini tidak lagi hanya bergantung pada satu nama. ESL Gaming masih menjadi kekuatan besar lewat DreamLeague dan ESL Pro Tour. BLAST mulai memperkuat posisi lewat seri BLAST Slam. Esports World Cup juga menjadi magnet besar karena membawa prize pool besar dan struktur kompetisi lintas game. Sementara itu, Valve tetap menjadi pusat perhatian lewat The International, turnamen paling ikonik dalam sejarah Dota 2.

Esports World Cup 2026 untuk Dota 2 dijadwalkan berlangsung pada Juli 2026 dengan 24 tim dan prize pool US$2 juta. Turnamen ini menjadi salah satu ajang paling prestisius sebelum The International. Dengan banyaknya organisasi besar yang masuk ke EWC, persaingan bukan hanya soal gameplay, tetapi juga soal konsistensi organisasi, strategi roster, dan kemampuan tim menjaga performa di tengah jadwal padat.

The International 2026 juga mulai terasa dekat. Valve telah mengumumkan daftar tim yang mendapat direct invite, termasuk Aurora Gaming, BoomBoys, Team Falcons, Team Liquid, Tundra Esports, Xtreme Gaming, dan Team Yandex. Sisanya akan memperebutkan slot melalui regional qualifier. Hal ini membuat tekanan untuk tim-tim di luar undangan langsung semakin besar, karena jalur menuju TI kini makin sempit dan penuh lawan berat.

Untuk pro player yang sedang berada dalam sorotan, beberapa nama layak diperhatikan. Satanic dari PARIVISION menjadi salah satu carry muda yang performanya sedang naik. No[o]ne tetap menunjukkan kelas sebagai midlaner veteran dengan pengalaman panjang. Nightfall dari Aurora Gaming masih menjadi salah satu carry yang konsisten di level tertinggi. Di luar itu, pemain dari Team Falcons, Tundra Esports, Team Liquid, dan Xtreme Gaming juga tetap masuk radar karena tim mereka berada di jalur kompetitif menuju EWC dan TI.

Secara keseluruhan, skena Dota 2 saat ini sedang berada dalam fase transisi yang menarik. Tidak ada satu tim yang benar-benar terlihat terlalu dominan, tetapi beberapa nama mulai membangun momentum. PARIVISION datang dengan energi baru, Aurora menjaga konsistensi, Team Falcons tetap menjadi ancaman besar, sementara Liquid, Tundra, Spirit, dan Xtreme Gaming masih punya kapasitas untuk meledak di turnamen besar.

Dengan BLAST Slam VII yang sedang berjalan, Esports World Cup yang semakin dekat, dan The International 2026 menunggu di Shanghai, beberapa bulan ke depan akan menjadi periode penting bagi Dota 2. Bagi penggemar, ini adalah momen terbaik untuk mengikuti perkembangan meta, performa roster, dan drama kompetitif yang selalu menjadi ciri khas scene Dota 2.

← Kembali ke Beranda